Antara cinta dan perbedaan keyakinan. Sebenarnya sudah lama terpikir untuk menulis tentang hal ini, namun selalu bingung dari mana harus memulainya. Jujur kisah ini saya dapat karena terirpirasi dari kisah salah satu teman dekat saya yang mungkin tidak perlu disebutkan namanya.
Sebelumnya saya minta maaf jika sebagian pihak mungkin menganggap tulisan saya ini nyerempet SARA, tetapi saya tidak bermaksud seperti itu. Saya pun hanya ingin memandang secara global tentang hal yang sudah lazim terjadi, bahkan mungkin salah satu atau beberapa blogger yang kebetulan mampir dan membaca tulisan ini sedang atau setidaknya pernah mengalaminya.
Seorang Pria, tak terlalu tampan menurutku, namun nampaknya memiliki suatu pesona tersendiri di mata para wanita. Dari sekian wanita yang menemani petualangan hidupnya beberapa tahun belakangan ini, baik sebagai kekasih ataukah hanya TTM (pinjam istilahnya RATU), sebagian besar menganut keyakinan berbeda.
Bahkan sempat ia menjalin suatu hubungan yang serius, juga dengan wanita yang berbeda agama. Suatu saat ia mengutarakan niat tulusnya pada sang gadis untuk menjalani hubungan lebih serius,dengan syarat Gadis itu harus mengikuti Keyakinan agamanya? gadis itu menjawab "Saya akan Mengikuti kamu,demi untuk selalu bersama kamu “
Karena sudah terlanjur tertanam benih cinta yang kuat diantara mereka,
dan pemikiran mereka suatu hari nanti pasti akan ada jalan keluar, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap bertahan dan memulainya ke jenjang lebih serius tanpa pengetahuan orang tua sang Gadis.Dan suatu ketika akhirnya sang gadis mengandung anak dari Pria itu,yah mungkin sobat semua sudah tau mengapa sang Pria memutuskan melakukan hal itu "karena sang Gadis sudah berkomitmen untuk mengikuti kepercayaan dari sang Pria".
Sang gadis itu pun sangat berat untuk melawan perintah orang tuanya,dia tidak sanggup melukai perasaan orangtua serta keluarga besarnya. Apalagi, ayahnya termasuk salah seorang pemuka agama di lingkungannya. Apa yang akan dikatakan orang-orang apabila dia benar-benar menjalankan niatnya?
Mereka berdua belum juga menemukan titik cerah mengenai hubungan itu. Setiap mereka membahas masalah keyakinan, pembicaraan mereka selalu berakhir dengan pertengkaran. Keduanya sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah.
Sempat terpikir di benak mereka untuk menyudahi hubungan ini, tapi mereka terlalu takut membayangkan masa depan sang anak tanpa seorang Ayah. Saat ini, mereka memutuskan untuk menjaga jarak sementara waktu, sebelum membuat keputusan final soal kelangsungan hubungan mereka.
Yang saya lihat sang wanita sebenarnya mengharapkan sesuatu yang lebih dari sang pria, tapi apalah daya, sang pria sudah terlanjur malas dengan komitmen.
Lalu apa yang mereka cari dari hubungan itu? Akhir ceritanya pun tidak ada yang tahu, karena semuanya masih belum berakhir.
Sempat saya berpikir, “Jika tak ada masa depan dalam sebuah hubungan, apakah tak juga ada harapan?”. Apakah benar suatu hubungan yang dibangun diatas pilar perbedaan keyakinan adalah sebuah hubungan yang tak memiliki prospek masa depan?
Seperti yang kita tahu, tujuan dari hubungan sepasang kekasih adalah hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Mengenai pernikahan beda agama, saya ingin memandang secara global, tidak dari sudut pandang suatu agama saja. Menurut suatu artikel yang pernah saya baca, ada empat cara yang populer ditempuh pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dilangsungkan, yaitu meminta penetapan pengadilan, perkawinan dilakukan menurut agama masing-masing, penundukan sementara pada salah satu hukum agama dan menikah di luar negeri.
Jadi sebenarnya cinta dalam perbedaan keyakinan memiliki prospek. Banyak cara yang bisa ditempuh. Banyak pasangan beda agama yang menikah dan sampai sekarang rumah tangga mereka baik-baik saja. Ada yang memilih untuk tetap pada agama dan keyakinan masing-masing, ada pula yang memilih untuk salah satu berpindah ke keyakinan pasangannya. Toh negara juga sebenarnya tak secara tegas melarang pernikahan beda agama. Larangan tersebut tidak datang dari negara melainkan dari agama. Sepanjang ada pengesahan agama, catatan sipil mencatat sebuah perkawinan akan mencatat sebuah pernikahan. Sepanjang tidak ada pengesahan agama, tidak mungkin catatan sipil mencatat sebuah perkawinan.
Jadi menurut saya, hubungan berbeda agama bukannya tidak memiliki prospek, hanya terlalu rumit. Mengenai prospek, semua kemungkinan pasti ada, tinggal bagaimana cara yang ditempuh untuk mengupayakannya. Tetapi, terlalu besar pengorbanan yang harus diberikan demi cinta kepada manusia jika harus merelakan hilangnya cinta kepada Tuhan. Jadi lebih baik dari awal hubungan itu dihindari saja. Selagi belum terlanjur, apalagi kata orang cinta itu buta. Wihhh, susah deh. Jadi lebih baik semakin menambah cinta pada Tuhan, jadi takkan mudah kehilangan cinta pada Nya. Bagaimana menurut Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar